24 Juli 2017
Eksistensi Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian
Home
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • green color
  • blue color

Eksistensi Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian



Jakarta, Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan membuka secara resmi Gelar Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian 2013 di Auditorium Kementerian Pertanian, Rabu (24/04). Teknologi pengolahan hasil pertanian dipandang terus berkembang dengan berbagai peluang dan tantangannya.

Dalam sambutannya, Rusman Heriawan mengatakan “Kegiatan ini penting dan strategis untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa teknologi pengolahan hasil masih ada atau masih eksis”. “Tapi apakah (teknologi. Red) itu naik atau turun sangat tergantung dari banyak kondisi”, lanjutnya.

Sehingga, untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi pengolahan hasil pertanian, ada 5 aspek yang harus dikondisikan agar teknologi pengolahan hasil pertanian menjadi tujuan bersama yaitu sebagai penggerak hilirisasi, penguatan agribisnis, integrasi hulu-hilir, dukungan bagi pengembangan bioenergi, dan mendorong diversifikasi pangan.

Teknologi pengolahan hasil pertanian harus mendorong proses hilirisasi yang terkait dengan upaya peningkatan nilai tambah produk pertanian. Dipahami bahwa nilai tambah produk olahan akan lebih tinggi dibandingkan dengan produk segar.

Penguatan agribisnis yang dimaksud adalah digunakannya teknologi dalam setiap tahapan kegiatan pertanian mulai dari hulu (on farm) hingga hilir (off farm). Dengan digunakannya teknologi, produk yang dihasilkan dapat dirancang untuk memenuhi syarat-syarat tertentu, termasuk syarat keamanan pangan.

Integrasi yang memadai antar kegiatan dari hulu hingga hilir dalam hal produksi harus dilakukan. Perlu juga upaya meyakinkan pada petani bahwa membangun integrasi hulu-hilir sangat bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan nilai produk yang dihasilkan.

Rencana perubahan harga bahan bakar minyak (BBM), dapat digunakan sebagai momentum untuk mendukung kembali penyediaan bio-energi. Dengan kondisi subsidi BBM masih besar, pengembangan bio-energi mengalami kendala, karena harga keekonomian bio-energi tidak dapat bersaing dengan BBM subsidi. Bahan baku yang ada seperti CPO, limbah ternak, jatropa, dan bahan pertanian lainnya perlu dibangkitkan kembali untuk menjadi bio-energi.

Teknologi pengolahan hasil juga harus menjadi pilar dalam upaya diversifikasi pangan. Tanpa teknologi pengolahan hasil diversifikasi pangan hyaris mustahil dilakukan. “Jangan bicara diversifikasi pangan bila tidak didukung oleh pengolahan hasil pertanian”, kata Rusman Heriawan.

Editor : Redaktur